Kamis, 11 Agustus 2016



Kecantikan , konsep dalam pemikiran pada setiap wanita yang makin meluas ini kemudian menjadi peluang bagi produsen kosmetika dan para pengelola salon, dan tempat senam. Pergi ke salon untuk mempermak wajah dan rambut saja saya rasa kurang cukup. Masih perlu ada tambahan lain, yakni pergi ke tempat fasilitas kebugaran dan kosmetika yang komplit untuk merawat tubuh luar-dalam. Betapa standarisasi perluasan arti kecantikan ini sangat cepat menyebar. Maka, tidak heran kini banyak salon yang menyediakan juga fasilitas kebugaran.

Itulah pandangan umum masyarakat kapitalis-sekuler yang memisahkan antara nilai-nilai spiritual dengan kebutuhan-kebutuhan material, kecantikan bersifat sebatas fisik-materi semata. Dalam kultur seperti ini seorang wanita dianggap cantik hanya apabila memiliki jasmani yang memenuhi standar-standar kecantikan tertentu yang diakui khalayak. Itulah kecantikan artifisial.

Sementara dalam Islam, kecantikan seseorang itu bukan dinilai dari fisiknya tetapi dari ketakwaannya kepada Allah. Jadi, yang disebut orang cantik sesungguhnya adalah mereka yang hatinya bagus, aqidahnya kuat, dan ibadahnya istiqamah. Yang disebut wanita cantik dalam islam adalah mereka yang rajin membaca Qur’an dan mentadaburinya. Yang disebut wanita cantik dalam Islam bukan mereka yang langsing, bukan mereka yang wajahnya bebas dari jerawat.

Seberapa pun ketat anda mengatur pola makan. Seteratur apapun anda senam kebugaran untuk mengencangkan otot-otot tubuh. Semahal apapun make up yang anda gunakan. Sekuat apapun susuk memalsukan pandangan. Anda akan tetap tua. Waktu tak bisa dihentikan. Kulit anda lama-lama dan pasti akan keriput. Wajah anda akan juga menuju ketuaan. Suara anda akan hilang. Tubuh dan tulang anda akan ringkih. Anda, kita semua akan kembali seperti bayi. inilah dunia yang fana dan sangat menipu. Segala yang bersifat materi, fisikly, adalah memiliki sifat sementara.

Kita memang patut heran dengan manusia yang mementingkan kesenangan sesaat, dan memang demikianlah kebanyakan manusia. Manusia yang ingin selalu dan selalu disanjung, dihargai, dikatakan cantik menawan. Menurut psikolog Niniek L Karim: Salah satu sisi manusia yang dituju adalah rasa tidak aman pada diri mereka. Rasa tidak aman itu dieksploitasi sedemikian rupa, sehingga orang baru bisa merasa aman dan percaya dirinya tumbuh setelah ia merasa cukup cantik untuk tampil bekerja maupun bersosialisasi.
Berjuta-juta perempuan terbius oleh iklan media, yang menstandarkan kecantikan. Wanita menjadi rela memanipulasi fisiknya melalui berbagai teknik, dengan biaya berapa pun besarnya, misalnya operasi plastik, untuk memperoleh bentuk fisik sebagaimana yang disyaratkan oleh standar kecantikan versi khalayak.

Berbagai teknologi dan perangkat kecantikan telah menjadi lahan industri yang bernilai komersiil tinggi. Untuk kepentingan industri kosmetika dan segenap perangkat pendukungnya itu, wanita terus-menerus dirangsang, melalui berbagai media, untuk memuja kecantikan artifisial semata.

Female dan fashion menjadi dua kata sakti demi sejumlah besar devisa. Wanita yang menjadi korban tanpa sadar telah tergiring pada hedonisme yang meruntuhkan nilai asing yang melekat dalam dirinya. Sejarah telah mencatat deretan panjang nama wanita yang mengalami kehidupan tragis akibat terbius oleh obsesi keabadian kecantikan artifisial tersebut.
Hal di atas adalah apa yang diistilahkan sebagai tabaruj jahiliyyah (cara berhias ala jahiliyah). Jauh-jauh hari Islam telah mengingatkan wanita muslim untuk menghindarinya. Dalam Islam, perhiasan wanita yang terindah adalah takwa dan kesalehannya (QS 7:26). Nilai-nilai ketakwaan dan kesalehan ini akan melahirkan pribadi luhur yang memancarkan keagungan jiwa yang terwujud dalam akhlakul karimah. Itulah kecantikan sejati atau dalam terminologi modern dikenal sebagai the inner beauty

Cantik memang merupakan Predikat itulah yang didambakan oleh banyak wanita dari zaman ke zaman pada berbagai peradaban. Kebutuhan tampil cantik memang merupakan naluri setiap wanita normal, sehingga pada derajat tertentu, kecantikan menjadi sesuatu yang universal dan menjadi bagian dari kultur sebuah masyarakat. Karenanya, persepsi mengenai kecantikan menjadi sesuatu yang nisbi dan sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup (ideologi) yang mendasari gaya hidup suatu masyarakat.
Berdandan agar tampil cantik tentu boleh-boleh saja, terlebih bila untuk menyenangkan hati suami, asal saja tetap dalam batas-batas rambu yang telah ditetapkan oleh Sang Khalik - agar kecantikan dapat menjadi rahmat dan bukannya penyebab laknat. Tapi, penampilan fisik yang prima hanya akan berharga bila disertai oleh keimanan yang teguh, akal yang cerdas, tutur bahasa yang santun dan perilaku yang lurus.




Berjuta-juta perempuan terbius oleh iklan media, yang menstandarkan kecantikan. Wanita menjadi rela memanipulasi fisiknya melalui berbagai teknik, dengan biaya berapa pun besarnya, misalnya operasi plastik, untuk memperoleh bentuk fisik sebagaimana yang disyaratkan oleh standar kecantikan versi khalayak.

Berbagai teknologi dan perangkat kecantikan telah menjadi lahan industri yang bernilai komersiil tinggi. Untuk kepentingan industri kosmetika dan segenap perangkat pendukungnya itu, wanita terus-menerus dirangsang, melalui berbagai media, untuk memuja kecantikan artifisial semata.

Female dan fashion menjadi dua kata sakti demi sejumlah besar devisa. Wanita yang menjadi korban tanpa sadar telah tergiring pada hedonisme yang meruntuhkan nilai asing yang melekat dalam dirinya. Sejarah telah mencatat deretan panjang nama wanita yang mengalami kehidupan tragis akibat terbius oleh obsesi keabadian kecantikan artifisial tersebut.
Hal di atas adalah apa yang diistilahkan sebagai tabaruj jahiliyyah (cara berhias ala jahiliyah). Jauh-jauh hari Islam telah mengingatkan wanita muslim untuk menghindarinya. Dalam Islam, perhiasan wanita yang terindah adalah takwa dan kesalehannya (QS 7:26). Nilai-nilai ketakwaan dan kesalehan ini akan melahirkan pribadi luhur yang memancarkan keagungan jiwa yang terwujud dalam akhlakul karimah. Itulah kecantikan sejati atau dalam terminologi modern dikenal sebagai the inner beauty

Cantik memang merupakan Predikat itulah yang didambakan oleh banyak wanita dari zaman ke zaman pada berbagai peradaban. Kebutuhan tampil cantik memang merupakan naluri setiap wanita normal, sehingga pada derajat tertentu, kecantikan menjadi sesuatu yang universal dan menjadi bagian dari kultur sebuah masyarakat. Karenanya, persepsi mengenai kecantikan menjadi sesuatu yang nisbi dan sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup (ideologi) yang mendasari gaya hidup suatu masyarakat.
Berdandan agar tampil cantik tentu boleh-boleh saja, terlebih bila untuk menyenangkan hati suami, asal saja tetap dalam batas-batas rambu yang telah ditetapkan oleh Sang Khalik - agar kecantikan dapat menjadi rahmat dan bukannya penyebab laknat. Tapi, penampilan fisik yang prima hanya akan berharga bila disertai oleh keimanan yang teguh, akal yang cerdas, tutur bahasa yang santun dan perilaku yang lurus.






Sumber : Muslimah Cantik.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar